Alhamdulillahi hamdan katsiiran thoyyiban mubaarakan fihi wash shalaatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du:
KAOS DAKWAH : Al-Wala`(kecintaan) dan Al-Bara` (kebencian) adalah salah satu dasar keimanan seorang muslim, karena keduanya termasuk Tauhidullah yang merupakan dasar dari agama Islam ini.

Seorang yang menerapkan Al-Wala` (kecintaan) dan Al-Bara` (kebencian) dengan benar, hakekatnya ia mentauhidkan Allah Ta’ala, sebagaimana hal ini disampaikan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, beliau berkata,
لأن حقيقة التوحيد أن لا يحب إلا الله ويحب ما يحبه الله لله فلا يحب إلا لله ولا يبغض إلا لله
“ …Karena hakikat tauhid adalah (dengan) tidak mencintai selain Allah dan mencintai apa yang dicintai oleh Allah karena-Nya. Maka kita tidak boleh mencintai sesuatu kecuali karena Allah, demikian pula tidak membencinya kecuali karena-Nya” (Majmu’ Al-Fatawa).
Sikap yang benar dalam menempatkan cinta dan benci akan mengokohkan keimanan seorang hamba, sebaliknya salah dalam menempatkan keduanya akan mengakibatkan rusaknya keimanannya.
Oleh karena itulah, dibawah ini penyusun akan nukilkan beberapa fatwa ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah, yang menjelaskan tentang sebagian tata cara berinteraksi dengan orang-orang kafir yang mereka adalah orang-orang yang dibenci oleh Allah, karena kekafirannya.
Maka kita membenci orang-orang yang dibenci oleh Allah Ta’ala, namun perkara yang penting menjadi catatan di sini adalah bahwa bentuk kebencian kita tetaplah harus sesuai dengan apa yang dikehendaki Rabb kita yang telah disebutkan di dalam Alquranul Karim dan Al-Hadits yang shahih.
Timbangan membenci orang-orang kafir itu bukanlah perasaan atau kebiasaan sebuah masyarakat tanpa mempedulikan apakah bertentangan dengan Syari’at Islam atau tidak!
Bukan pula barometer cinta dan benci itu didasarkan kepada Islam Nusantara, Islam Arab Saudi, Islam Timur Tengah atau Islam Amerika dan selainnya, Tidak! Karena Islam itu hanya satu, yaitu agama yang Allah turunkan melaui utusan-Nya yang paling mulia, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Akan tetapi, sesungguhnya timbangan Al-Wala`(kecintaan) dan Al-Bara` (kebencian) itu adalah dikembalikan kepada Allah, maka “kita tidak boleh mencintai sesuatu kecuali karena Allah, demikian pula tidak membencinya kecuali karena-Nya”, demikian tutur Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah.
Kita mencintai segala sesuatu yang dicintai oleh Allah dan membenci segala sesuatu yang dibenci oleh Allah, baik sesuatu itu terkait dengan orang, keyakinan, ucapan, perbuatan maupun selainnya.
Sedangkan apa yang dicintai dan dibenci oleh Allah itu telah lengkap disebutkan di dalam dua wahyu-Nya.
Dan jika kita tidak mengetahuinya, maka kita diperintahkan untuk bertanya kepada para ulama yang merekalah orang-orang yang paling paham tentang ajaran Islam, di tengah-tengah umat ini.
Allah Ta’ala berfirman :
{فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ}
(43) Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan (ulama) jika kalian tidak mengetahui. (QS. An-Nahl: 43).
Dalam serial artikel ini, in sya Allah, penyusun nukilkan beberapa fatwa dari ulama-ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang terpercaya, yang memiliki reputasi ilmiah yang mendunia, seperti : Syaikh Bin Baz, Syaikh Al-‘Utsaimin, dan masyayikh yang tergabung kedalam Komite Fatwa KSA yang dijadikan rujukan pertanyaan-pertanyaan kaum muslimin dari berbagi penjuru dunia.
Hanya saja, apa yang penyusun sampaikan ini, barulah sedikit saja dari ilmu para ulama yang luas, masih terlalu banyak permasalahan yang belum dinukilkan fatwanya dari para ulama rahimahumullah di dalam serial artikel ini.
Ini hakekatnya sekedar ‘sentilan’ terhadap kesadaran beragama kita sebagai warga dari sebuah negara, yang umat Islamnya termasuk paling banyak di dunia, agar kita semakin sadar bahwa hakekatnya semua sisi kehidupan kita ini terdapat petunjuknya dari Allah Ta’ala di dalam wahyu-Nya, tinggal kita yang tertuntut untuk rajin mempelajari wahyu-Nya tersebut lewat bimbingan para ulama rabbaniyyin yang mendidik umat ini dengan ilmu-ilmu dasar sebelum ilmu-ilmu selanjutnya. 

Perkara-perkara yang semestinya dilakukan terhadap orang non Muslim

Sebuah pertanyaan ditanyakan kepada Syaikh Abdul Aziz bin Baz: “Apakah kewajiban bagi seorang muslim terhadap non muslim, baik ia seorang kafir dzimmi yang tinggal di negara kaum muslimin atau tinggal di negaranya sendiri maupun seorang muslim yang tinggal di negara orang non muslim tersebut. Kewajiban yang saya ingin ketahui penjelasannya di sini adalah interaksi (mu’amalah) dengan berbagai macamnya, mulai dari mengucapkan salam sampai masalah merayakan hari raya non muslim dengannya. Dan apakah boleh mengambil(nya) sebagai partner kerja saja? Kami mohon penjelasannya, semoga Allah memberi pahala kepada Anda”.
Beliau menjawab:
Sesungguhnya ada beberapa perkara yang termasuk disyari’atkan bagi seorang muslim dalam berinteraksi dengan non muslim, diantaranya adalah :
Pertama, berdakwah ilallah, yaitu seorang muslim mengajak non muslim untuk menyembah Allah dan menjelaskan kepadanya hakekat Islam, jika memang hal itu memungkinkan baginya dan ia memang memiliki ilmu (tentangnya). Karena hakekatnya ini adalah perbuatan baik yang terbesar dan terpenting. Seorang muslim memberi petunjuk kepada orang-orang yang senegara dengannya dan orang-orang nashara (kristen), yahudi ataupun kaum musyrik yang lainnya yang tinggal satu daerah dengannya, berdasarkan sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam,
 ((من دل على خير فله مثل أجر فاعله))
“Barangsiapa yang menunjukkan kebaikan, maka ia mendapatkan ganjaran seperti pahala pelakunya”. (HR. Imam Muslim dalam shahihnya).
Dan sabda beliau ‘alaihish shalaatu was salaam kepada Ali radhiyallaahu ‘anhu ketika beliau mengutusnya ke daerah Khaibar dan memerintahkanya untuk mengajak (manusia)masuk kedalam agama Islam, beliau bersabda:
 ((فوالله لأن يهدي الله بك رجلا خير لك من حمر النعم)) متفق على صحته.
“Demi Allah, sungguh Allah memberi petunjuk kepada satu orang melalui engkau itu lebih baik daripada onta merah”. (Disepakati keshahihannya oleh Al-Bukhori dan Muslim).
Beliau ‘alaihish shalaatu was salaam bersabda:
((من دعا إلى هدى كان له من الأجر مثل أجور من تبعه لا ينقص ذلك من أجورهم شيئا، ومن دعا إلى ضلالة كان عليه من الإثم مثال آثام من تبعه لا ينقص ذلك من آثامهم شيئا))
“Barangsiapa yang mengajak kepada petunjuk (kebajikan), maka dia mendapatkan pahala sebagaimana pahala-pahala orang yang mengikutinya, hal itu tidak mengurangi pahala-pahala mereka sedikitpun. Dan barangsiapa mengajak kepada kesesatan, maka dia mendapatkan dosa seperti dosa-dosa orang yang mengikutinya, hal itu tidak mengurangi dosa-dosa mereka sedikitpun” . (Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam shahihnya).
Maka dakwah seorang muslim mengajak kepada Allah, menyampaikan ajaran Islam serta nasehatnya tentang hal itu, merupakan salah satu perkara yang terpenting dan bentuk mendekatkan diri kepada Allah yang paling utama.


Anda sedang mencari KAOS DAKWAH yang berkualitas KAOS DISTRO silakan kunjungi website kami GRIRAH, semoga akan mendapatkan jenis dan kualitas KAOS DAKWAH yang terbaik, terima kasih atas kunjungannya
Kedua, jika orang non muslim tersebut adalah seorang kafir dzimmi atau musta`min atau mu’ahadmaka seorang muslim tidak boleh menzhaliminya, tidak pada jiwa, harta maupun kehormatannya, karena ia menunaikan hak kepada seorang muslim, maka tidak boleh seorang muslim menzhaliminya, (baik) tidak (mezhaliminya) pada hartanya (misalnya) dengan tidak mencuri, tidak berkhianat dan tidak menipu(nya). Tidak pula menzhaliminya pada badannya (misalnya) dengan tidak memukul dan selainnya. Karena statusnya sebagai seorang kafir yang mu’ahad  atau dzimmi di suatu negeri atau musta`min yang (harus) dijaganya.
Ketiga, seorang muslim tidak dilarang berinteraksi dengan non muslim dalam masalah jual beli, sewa menyewa dan semisalnya.
Telah ada sebuah riwayat yang shahih dari Rasulullah ‘alaihish shalaatu was salaam bahwa beliau pernah membeli (sesuatu) dari orang-orang kafir para penyembah berhala dan juga pernah membeli (sesuatu) dari orang yahudi. Sedangkan ini adalah suatu bentuk muamalah (interaksi).
Beliau ‘alaihish shalaatu was salaam pun wafat sedangkan baju besinya sedang digadaikan kepada orang yahudi untuk membeli makanan bagi keluarganya.
Keempat, (adapun) tentang masalah salam, tidak boleh memulai mengucapkan salam kepadanya, hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam:
 ((لاتبدأوا اليهود ولا النصارى بالسلام))
“Janganlah kalian memulai mengucapkan salam kepada  kaum yahudi dan nashara (kristen)” (Dikeluarkan oleh Imam Muslim dalam Shahihnya).
Dan beliau –shallallaahu ‘alaihi wa sallam– bersabda :
((إذا سلم عليكم أهل الكتاب فقولوا: وعليكم))
“Jika seorang Ahli Kitab mengucapkan salam kepada kalian, maka jawablah dengan ucapan :” wa ‘alaikum””.
Maka seorang muslim tidak boleh memulai mengucapkan salam kepada orang kafir, akan tetapi hendaknya ia menjawabnya dengan ucapan :” wa ‘alaikum”, hal ini berdasarkan sabda Nabi  ‘alaihish shalaatu was salaam,
((إذا سلم عليكم أهل الكتاب فقولوا: وعليكم))
“Jika seorang Ahli Kitab mengucapkan salam kepada kalian, maka jawablah dengan ucapan :” wa ‘alaikum”” (Disepakati keshahihannya oleh Al-Bukhori dan Muslim).
Ini adalah salah satu dari hak-hak yang terkait antara orang muslim dengan orang kafir. 
Diantara hak-hak tersebut juga adalah bertetangga yang baik. Jika orang kafir tersebut adalah tetangga(mu), maka berbuat baiklah Anda kepadanya dan janganlah Anda mengganggunya dalam bertetangga. Dan bersedekahlah kepadanya jika ia adalah orang yang fakir, berilah hadiah dan nasehatilah ia dengan nasehat yang bermanfaat.
Karena hal ini merupakan perkara yang menyebabkan kecintaannya kepada agama Islam dan masuknya ia kedalam Islam dan karena seorang tetangga itu memiliki hak (atas tetangganya, pent.).
Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
((مازال جبريل يوصيني بالجار حتى طننت أنه سيورثه))
“ Malaikat Jibril senantiasa berwasiat kepadaku agar memperhatikan tetangga, sehingga aku mengira Malaikat Jibril akan menyampaikan bahwa tetangga itu termasuk ahli waris (bagi tetangga yang lain,pent.).” (Disepakati keshahihannya oleh Al-Bukhori dan Muslim).
Jika tetangga itu orang kafir, maka ia memiliki hak tetangga, sedangkan jika tetangga itu orang kafir sekaligus kerabat, maka ia memiliki dua hak, yaitu: hak tetangga dan hak kekerabatan.
Diantara perkara yang disyari’atkan bagi seorang muslim, hendaknya ia bersedekah dengan sedekah selain harta zakat kepada tetangganya yang kafir dan selain tetangganya diantara orang-orang kafir yang tidak memerangi kaum muslimin.
Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala,
{لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ}            
Allah tidak melarang kalian untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangi kalian karena agama (kalian) dan tidak (pula) mengusir kalian dari negeri kalian. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil” (QS. Al-Mumtahanah: 8).
Berdasarkan hadits yang shahih dari Asma` bintu Abu Bakar radhiyallaahu ‘anhuma bahwa pada saat perjanjian damai Hudaibiyah, ibunya mendatanginya di Madinahsedangkan ibunya tersebut adalah seorang wanita musyrik yang menginginkan pertolongan. Lalu Asma` meminta izin kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam untuk keperluan itu, apakah diperbolehkan ia berbuat baik kepadanya​? Maka beliau pun –shallallaahu ‘alaihi wa sallam– bersabda,
((صليها)) 
“Berbuat baiklah kepadanya!”
Adapun zakat, maka tidak ada larangan memberikan zakat kepada mu`allaf qulubuhum (orang-orang yang diperlakukan dengan halus hatinya) diantara orang-orang kafir, hal ini berdasarkan firman Allah ‘Azza wa Jalla,
{إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ }
Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, orang-orang yang diperlakukan dengan halus hatinya…” .(QS. At-Taubah:60).
Adapun ikut serta dengan orang-orang kafir dalam perayaan hari raya mereka, maka tidak boleh bagi seorang muslim untuk ikut serta di dalam acara tersebut.
Lajnah Daimah (Komite Fatwa) Saudi Arabia ditanya (fatwa no. 5176): “Jika kami mempunyai tetangga orang-orang kafir (nashara/kristen), bagaimana kami bersikap kepada mereka, jika mereka memberi kami hadiah-hadiah, apakah kami terima (hadiah tersebut) dari mereka? Apakah boleh kami (wanita muslimah, pent.) menampakkan wajah (membuka cadar, pent.) di hadapan mereka (perempuan kafir) atau mereka melihat dari kami lebih dari sebatas wajah (misalnya : rambut dan kepala, pent.)? Dan bolehkah kami membeli (barang) dari penjual nashara (kristen)?”
Mereka menjawab:
Berbuat baiklah kalian kepada orang yang telah berbuat baik kepada kalian diantara mereka, walaupun mereka nashara (kristen). Maka jika mereka memberi hadiah yang mubah (sesuatu yang halal, pent.) kepada kalian, maka balaslah mereka karenanya. (Dulu) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menerima hadiah dari pembesar negara romawi padahal ia seorang yang beragama nashara (kristen) dan juga menerima hadiah dari yahudi.
Allah Ta’ala berfirman,
لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ
Allah tidak melarang kalian untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangi memerangi kalian karena agama (kalian) dan tidak (pula) mengusir kalian dari negeri kalian. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil”
إِنَّمَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ قَاتَلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَأَخْرَجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ وَظَاهَرُوا عَلَىٰ إِخْرَاجِكُمْ أَنْ تَوَلَّوْهُمْ ۚ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ
Sesungguhnya Allah hanya melarang kalian menjadikan sebagai wali kalian1 orang-orang yang memerangi kalian karena agama (kalian) dan mengusir kalian dari negeri kalian dan membantu (orang lain) untuk mengusir kalian. Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai wali, maka mereka itulah orang-orang yang zalim”.
Anda boleh menampakkan di depan wanita-wanita mereka sesuatu yang diperbolehkan untuk ditampakkan di depan  wanita-wanita muslimah, berupa : pakaian dan yang semisalnya yang boleh diperlihatkan dan boleh (seorang muslimah) berhias dengannya, hal ini menurut pendapat ulama yang terkuat.
Andapun boleh membeli dari mereka apa yang Anda butuhkan, berupa sesuatu yang halal.
Wabillahit Taufiq, wa Shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammad wa Alihi wa Shahbihi wa Sallam.
Komite Tetap Pembahasan Ilmiah dan Fatwa KSA
Ketua : Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz.
Wakil Ketua : Abdur Razzaq Afifi.
Anggota : Abdullah bin Qu’ud
(Sumber: Website resmi Ar-Riaasah Al-‘Aammah Lil Buhuts Al-Ilmiyyah wal Iftaahttp://bit.ly/1OR866Z)
Mereka juga ditanyakan pertanyaan yang semisal (Fatwa no. 8691): “Bagaimana tata cara berinteraksi dengan seorang yang beragama kristen, baik sebagai tetangga dalam asrama atau teman sekolah? Apakah saya boleh mengunjunginya dan menyampaikan ucapan selamat kepadanya di hari raya mereka?”
Mereka menjawab:
Boleh berinteraksi dengan seorang nashrani yang menjadi tetangga, dengan cara berbuat baik kepadanya dan membantunya dalam urusan yang mubah. (Boleh pula) bersikap baik terhadapnya dan mengunjunginya untuk mengajaknya menyembah Allah Ta’ala (saja), barangkali Allah memberi hidayah kepadanya untuk masuk kedalam agama Islam.
Adapun menghadiri hari raya mereka dan menyampaikan ucapan selamat kepada mereka karenanya, maka hal itu tidak diperbolehkan. Berdasarkan firman Allah Subhanahu,
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ
Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran” (QS. Al-Maaidah: 2).
Karena menghadiri hari raya mereka  dan menyampaikan ucapan selamat itu adalah salah satu macam wala’ (cinta) yang diharamkan. Demikian pula menjadikan mereka sebagai teman (yang dicintainya, pent.).

Beberapa masalah dalam bab muamalah dengan non Muslim

1. Kaidah dalam menerima hadiah dari non muslim
Dalam keadaan tertentu, tertuntut kita untuk menolak hadiah non muslim, sebagaimana Fatwa Syaikh Muhammad Al Imam hafizhahullah berikut ini:
“…para ulama memberikan kaidah dalam menerima hadiah dari orang kafir. Demikian juga halnya hadiah dari ahli maksiat dan orang yang menyimpang.
Yaitu, jika hadiah tersebut tidak berpotensi membahayakan bagi si penerima, dari segi Syar’i (agama), maka boleh. Namun jika hadiah itu diberikan tujuannya agar si penerima tidak mengatakan kebenaran, atau agar tidak melakukan suatu hal yang merupakan kebenaran, maka hadiah tersebut tidak boleh diterima. Demikian juga jika hadiah itu diberikan dengan tujuan agar masyarakat bisa menerima orang-orang kafir yang dikenal tipu daya dan makarnya, maka saat itu tidak boleh menerima hadiah. Intinya, jika dengan menerima hadiah tersebut akan menimbulkan sesuatu berupa penghinaan atau setidaknya ada tuntutan untuk menentang suatu bagian dari agama kita, atau membuat kita diam tidak mengerjakan apa yang diwajibkan oleh Allah, atau membuat kita melakukan yang diharamkan oleh Allah, maka ketika itu hadiah tersebut tidak boleh diterima”.
Dan berikut ini syarat-syarat menerima hadiah dari non muslim.
Fatwa Syaikh Muhammad Shaleh Al-Munajjid rahimahullah :
“Kesimpulannya adalah, dibolehkan bagi anda menerima hadiah dari tetangga anda yang Nashrani pada hari Id mereka, dengan syarat;
  1. Hadiah tersebut bukan berupa sembelihan yang disembelih karena hari raya mereka.
  2. Hadiah tersebut tidak untuk perkara yang menyerupai mereka pada hari raya mereka, seperti lilin, telor, pelepah dan semacamnya.
  3. Hendaknya hal tersebut diiringi dengan penjelasan tentang aqidah Al-Wala’ wal Bara’ (cinta dan taat kepada Allah, Rasul-Nya dan orang beriman serta memutuskan hubungan kepada orang kafir) kepada anak-anak anda, agar tidak tertanam dalam hati mereka cinta terhadap hari raya mereka atau hatinya terpaut dengan orang yang memberi.
  4. Tujuan menerima hadiah adalah untuk melunakkan hatinya dan mengajaknya masuk Islam, bukan sekedar basa basi, apalagi mencintai dan berkasih sayang kepadanya. ”.
(Baca selengkapnya di: https://Islamqa.info/id/85108).
2. Kaidah dalam memberi hadiah kepada non muslim
Fatwa Syaikh Muhammad Shaleh Al-Munajjid rahimahullah :
“Dibolehkan bagi seorang muslim untuk memberi hadiah bagi orang kafir dan musyrik dengan maksud untuk melunakkah hatinya dan menarik minatnya masuk Islam, khususnya jika dia merupakan kerabat atau tetangga. Umar radhiallahu anhu memberi hadiah baju kepada saudaranya yang masih musyrik semasa di Mekah (HR. Bukhari, no. 2619).
Namun jika hadianya merupakan sesuatu yang dimanfaatkan untuk merayakan Hari Raya mereka, seperti makanan, lilin dan semacamnya, maka hal itu merupakan perkara yang sangat besar keharamannya, bahkan sebagian ulama menganggap perbuatan tersebut sebagai kekufuran.
Bahkan tidak boleh bagi seorang muslim memberi hadiah bagi muslim lainnya karena hari raya tersebut ”.
(Baca selengkapnya di: https://Islamqa.info/id/85108).
3. Tidak boleh mencintai dan kasih sayang kepada non muslim.
Fatwa Syaikh Muhammad Shaleh Al-Munajjid rahimahullah :
“Akan tetapi berbuat baik dan bersikap adil, tidak berarti mencintai dan berkasih sayang, karena mencintai dan berkasih sayang kepada orang kafir tidak dibolehkan, begitu pula hendaknya tidak menjadikannya sebagai kawan dekat, berdasarkan firman Allah Ta’ala,
لا تَجِدُ قَوْماً يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ أُولَئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ الأِيمَانَ وَأَيَّدَهُمْ بِرُوحٍ مِنْهُ وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ أُولَئِكَ حِزْبُ اللَّهِ أَلا إِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, Sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. meraka Itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. dan dimasukan-Nya mereka ke dalam Surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan merekapun merasa ridho/puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. mereka Itulah golongan Allah. ketahuilah, bahwa Sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung.  (QS. Al-Mujadilah: 22)”.
(Baca selengkapnya di: https://Islamqa.info/id/85108).
4. Hukum bersikap lembut terhadap non muslim
Fatwa Syaikh Muhammad Shaleh Al-Utsaimin rahimahullah dalam kitab beliau Majmu’ Fatawa wa Rasail Asy-Syaikh Al-Utsaimin, tentang Al-Wala` wal Bara` beliau ditanya: “Fadhilatusy Syaikh Muhammad Shaleh Al-Utsaimin ditanya tentang :  (bagaimana)  hukum bergaul dan berinteraksi dengan orang kafir, dengan sikap lembut dan halus, karena menginginkan keislaman mereka?”
Beliau menjawab:
Tidak diragukan bahwa seorang muslim wajib membenci musuh-musuh Allah dan berlepas diri dari mereka, karena ini adalah jalan yang ditempuh oleh para Rasul dan pengikut mereka.
Allah Ta’ala berfirman :
قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّىٰ تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ
Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagi kalian pada (Nabi) Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kalian dari daripada apa yang kalian sembah selain Allah, kami ingkari (agama) kalian dan telah nyata antara kami dan kalian permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kalian beriman kepada Allah saja” (QS. Al-Mumtahanah: 4).
Allah Ta’ala juga berfirman :
لَا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ ۚ أُولَٰئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ الْإِيمَانَ وَأَيَّدَهُمْ بِرُوحٍ مِنْهُ
“(22)Kamu tidak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari Akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan Wahyu dan pertolongan yang datang dari-Nya” (QS. Al-Mujaadilah: 22).
Berdasarkan hal ini, maka bagi seorang muslim, tidak boleh terdapat dalam hatinya rasa cinta dan kasih sayang terhadap musuh-musuh Allah yang -kenyataannya- mereka adalah musuh-musuh bagi seorang muslim (pula).
Allah Ta’ala berfirman :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا عَدُوِّي وَعَدُوَّكُمْ أَوْلِيَاءَ تُلْقُونَ إِلَيْهِمْ بِالْمَوَدَّةِ وَقَدْ كَفَرُوا بِمَا جَاءَكُمْ مِنَ الْحَقِّ                     
“(1) Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengambil musuh-Ku dan musuh kalian menjadi teman-teman setia yang kalian (bersegera) menyampaikan kepada mereka rasa kasih sayang (kalian), padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepada kalian” (QS. Al-Mumtahanah: 1).
Adapun seorang muslim yang berinteraksi dengan mereka, dengan sikap lembut dan halus karena menginginkan keislaman dan keimanan mereka, maka hal ini diperbolehkan.
Sebab, sikap ini termasuk jenis perlakuan halus (ta`liif) terhadap mereka agar mereka mau masuk Islam.
Akan tetapi, jika ia putus asa terhadap mereka, maka sikapilah mereka dengan sikap yang layak bagi mereka (sesuai dengan perbuatannya, pent.).
Dan hal ini telah disebutkan secara terperinci dalam kitab-kitab ulama, terlebih lagi kitab “Ahkam Ahlidz Dzimmah” karya Ibnul Qoyyim rahimahullah.
5. Hukum ikut serta bersama dengan non muslim di dalam merayakan hari raya mereka
Fadhilatusy Syaikh Muhammad Shaleh Al-Utsaimin ditanya tentang: (bagaimana) hukum kaum muslimin ikut serta bersama dengan non muslim di dalam (merayakan) hari raya mereka?
Beliau menjawab:
“ (Hukum) ikut serta bersama dengan non muslim di dalam (merayakan) hari raya mereka adalah haram, karena mengandung tindakan menolong (mereka) dalam dosa dan pelanggaran, padahal Allah Ta’ala telah berfirman,
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ
Dan tolong-menolonglah kalian dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran” (QS. Al-Maaidah: 2).
Dan karena hari raya-hari raya (non muslim ini),
  1. Jika terkait dengan keagamaannya, maka keikutsertaan kaum muslimin di dalamnya mengandung konsekwensi pengakuan kaum muslimin terhadap ajaran agama (non muslim) ini dan ridho terhadap kekafiran mereka.
  2. Dan jika hari raya-hari raya tersebut terkait dengan perkara di luar keagamaannya (hanya adat non muslim, pent.), maka seandainya hari raya-hari raya tersebut (diselenggarakan) di tengah-tengah kaum muslimin saja, hal itu tidak (boleh) dilakukan (karena hari raya non muslim, pent.), maka bagaimana mungkin (boleh dirayakan), sedangkan hari raya-hari raya tersebut (diselenggarakan) di tengah-tengah orang-orang kafir?
Oleh karena itu, ulama menyatakan bahwa kaum muslimin tidak boleh untuk ikut serta bersama dengan non muslimin di dalam (merayakan) hari raya mereka, karena hal itu berarti mengakui dan ridho terhadap agama batil tersebut dan juga berarti menolong (mereka) dalam dosa dan pelanggaran…..”.
6. Hukum profesi yang mengharuskan bekerja bersama dengan orang kafir
Fadhilatusy Syaikh Muhammad Shaleh Al-Utsaimin ditanya tentang hukum seorang (muslim) bekerja bersama dengan orang kafir, apakah nasehat Anda?
Beliau menjawab:
Kami nasehatkan kepada saudara (penanya) ini, yang ia bekerja bersama dengan orang-orang kafir, agar mencari pekerjaan yang tidak terdapat di dalamnya musuh-musuh Allah dan Rasul-Nya, (yaitu) diantara orang-orang yang beragama selain Islam.
Jika memang hal ini mudah (dilakukan), maka (pekerjaan) inilah yang selayaknya (dicari).
Namun, jika tidak mudah (dilakukannya), maka tidak mengapa  (seorang muslim bekerja bersama dengan orang-orang kafir), karena ia (bertanggungjawab & sibuk dengan) pekerjaannya sendiri, sedangkan mereka (bertanggungjawab & sibuk dengan) pekerjaan mereka sendiri (pula), namun dengan syarat tidak boleh ada dalam hatinya kasih sayang, cinta dan loyalitas (wala`) kepada mereka serta berpegangteguh dengan Syari’at (Islam) dalam aturan mengucapkan dan membalas salam kepada mereka dan yang semisalnya. Demikian pula, tidak boleh mengantarkan dan menghadiri jenazah mereka serta tidak boleh pula menghadiri (perayaan) hari raya mereka dan tidak boleh mengucapkan selamat hari raya (kepada mereka).
7. Hukum mendatangkan karyawan non muslim
Fadhilatusy Syaikh Muhammad Shaleh Al-Utsaimin dalam kitab yang sama (fatwa no.399) ditanya tentang hukum mendatangkan para karyawan non muslim dan hukum menyajikan makanan untuk mereka?
Beliau -semoga Allah membalasnya dengan sebaik-baik balasan- menjawab:
Kaum muslimin lebih baik dari orang-orang kafir, berdasarkan firman Allah Ta’ala :
وَلَعَبْدٌ مُؤْمِنٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكٍ وَلَوْ أَعْجَبَكُمْ
“(221) Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik, walaupun dia menarik hati kalian” (QS. Al-Baqarah: 221).
Namun, tidak mengapa mendatangkan karyawan non muslim, jika memang dibutuhkan.
Adapun (hukum seorang muslim) menyajikan makanan untuk mereka,
  1. Jika dalam posisi melayani (sebagai pembantu rumah tangga, pent.), seperti ia melayani mereka di rumah-rumah mereka dan yang semisalnya, maka tidak selayaknya (hal itu dilakukan), bahkan para ulama Ahli Fiqih menyatakan makruhnya hal itu.
  2. Namun, jika bukan dalam posisi melayani, seperti Anda menyajikan makanan untuk mereka (sebagai tamu, pent.) di rumah Anda, maka boleh, karena memang ada kebutuhan untuk (melakukan) hal itu.
8. Bolehkah seorang muslim memanggil non muslim “Saudaraku!” atau “Temanku!
Fadhilatusy Syaikh Muhammad Shaleh Al-Utsaimin ditanya tentang hukum ucapan “Saudaraku!” kepada non muslim? Demikian pula (hukum) panggilan “Teman dan kawan” (kepada non muslim)? Dan hukum tertawa ke orang-orang kafir dengan maksud untuk mendapatkan kasih sayang (mereka)?
Beliau menjawab:
Adapun (hukum) ucapan “Wahai, Saudaraku!”  kepada non muslim adalah haram. Ucapan ini tidak boleh diucapkan kecuali jika non muslim tersebut (benar-benar) saudaranya, baik (persaudaraan) disebabkan oleh nasab (keturunan) maupun persusuan.
Karena jika bukan saudara senasab dan bukan pula saudara sepersusuan, maka tinggal satu kemungkinan, (yaitu) saudara seagama. Sedangkan orang kafir bukanlah saudara seagama (seiman) bagi seorang muslim.
Dan ingatlah ucapan Nabiyyullah Ta’ala Nuh:
رَبِّ إِنَّ ابْنِي مِنْ أَهْلِي وَإِنَّ وَعْدَكَ الْحَقُّ وَأَنْتَ أَحْكَمُ الْحَاكِمِينَ
“Ya Tuhanku, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janji Engkau itulah yang benar. Dan Engkau adalah Hakim yang seadil-adilnya”.
قَالَ يَا نُوحُ إِنَّهُ لَيْسَ مِنْ أَهْلِكَ
Allah berfirman: “Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (QS. Huud: 45-46).
Adapun ucapan “teman dan kawan”  atau yang semisal keduanya,

  • Jika kata tersebut adalah (sekedar) ucapan sambil lalu, dengan maksud sekedar panggilan bagi orang yang tak diketahui namanya di antara mereka (non muslim), maka ini diperbolehkan.
  • Namun jika maksudnya adalah untuk berkasih-sayang dan mengakrabi mereka (non muslim), maka sesungguhnya Allah Ta’ala telah berfirman:

لَا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ
“Kamu tidak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari Akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka” (QS. Al-Mujaadilah: 22).
Maka (kesimpulannya):
Setiap kata-kata halus yang dimaksudkan untuk saling menyayangi, maka seorang mukmin tidak boleh menggunakannya ketika berbicara dengan non muslim, siapapun non muslim tersebut.
Demikian pula masalah tertawa ke mereka dengan maksud saling berkasih-sayang antara kita dengan mereka, maka tidak boleh, sebagaimana diketahui dari ayat yang mulia tersebut di atas.
9. Bolehkah seorang muslim menampakkan wajah ceria dan tertawa kepada non muslim?
Berikut ini penyusun akan ringkaskan fatwa dari Markaz Fatwa di website Islamweb.net, “Tidak mengapa (menampakkan) wajah ceria, tawa dan canda dengannya (non muslim) tanpa menampakkan ridha terhadap agama/kekufurannya. Hukum asalnya adalah boleh, sebagaimana bolehnya berbicara dan berinteraksi dengannya. Imam Al-Bukhari telah membuat sebuah bab dalam shahihnya, beliau berkata:
 باب الانبساط إلى الناس
Bab: “Bersikap manis kepada manusia”.
Perkataan “An-Naas” disini mencakup orang muslim dan orang kafir”. Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Urwah bin Az-Zubair, bahwa Aisyah radhiyallahu ‘anha mengabarkan kepadanya bahwa seorang laki-laki meminta izin kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliapun bersabda:
ائذنوا له، فبئس ابن العشيرة أو بئس أخو العشيرة
“Izinkanlah ia, ia adalah seburuk-buruk anak dalam keluarga atau seburuk-buruk saudara dalam keluarga “.
Namun, ketika ia masuk, beliaupun bermanis kata. Akupun bertanya, “Wahai Rasulullah, engkau telah mengatakan perkataanmu tadi, kemudian engkau bermanis kata kepadanya?” Beliau menjawab,
أي عائشة إن شر الناس منزلة عند الله من تركه أو وَدَعَه الناس اتقاء فحشه
“Wahai ‘Aisyah sesungguhnya manusia paling buruk kedudukannya  menurut Allah ialah orang yang dijauhi atau ditinggalkan oleh orang-orang karena mereka menghindari kekejiannya.”
Al-Bukhari berkata, “Pernah disebutkan dari Abud Dardaa` bahwa beliau berkata:
إنا لنكشر في وجوه أقوام ونضحك إليهم وإن قلوبنا تلعنهم
“Sesungguhnya kami tersenyum dan tertawa di hadapan sebagian orang, sedangkan hati kami melaknat mereka!
Syaikh Sulaiman bin Abdillah Al-Majid rahimahullah pernah ditanya tentang seorang muslim yang bercanda dengan orang-orang kafir, lalu beliaupun menjawab:
“Jika canda dan sikap tidak canggungmu kepada mereka, bukan karena cinta kepada kekafiran mereka dan bukan karena cinta kepada pribadi mereka secara mutlak, namun karena (ingin) mendakwahi mereka atau untuk basa-basi dalam berkomunikasi, maka sikap ini tidaklah dinilai sebagai sesuatu yang tercela dalam aqidah Bara` (benci) terhadap orang-orang kafir”
10. Bolehkah seorang muslim mengucapkan “Selamat Pagi!” dan “Selamat Datang!” kepada non muslim?
Markaz Fatwa Islamweb.net, ketika ditanya bolehkah memulai mengucapkan “Selamat Pagi!” dan “Selamat Datang!” kepada nashara (orang-orang kristen), menjawab:
“Adapun memulai mengucapkan ucapan selain “Assalaamu’alaikum” kepada mereka, seperti ucapan “Selamat Pagi!”, “Selamat Datang!” dan ucapan yang semisalnya kepada mereka (nashara), maka hukum yang nampak (bagi kami) adalah boleh. Hal ini dikarenakan:
  1. Hadits-hadits (yang ada dalam masalah ini) hanyalah terkait dengan larangan memulai mengucapkan ucapan “Assalaamu’alaikum” kepada mereka dan tidak terkait dengan ucapan selamat yang lainnya.
  2. Di dalam (memulai) ucapan “Assalaamu’alaikum (kepada mereka) terkandung bentuk pemuliaan dan penghormatan yang spesifik bagi mereka, yang tidak terdapat di dalam ucapan-ucapan selamat yang lainnya. Ibnul Qoyyim telah menyebutkan makna-makna agung yang terdapat dalam ucapan “Assalaamu’alaikum, seperti di dalamnya terdapat salah satu nama Allah Ta’ala dan syi’ar bagi kaum muslimin yang tersebar diantara mereka dan do’a keselamatan.
Kemudian beliau berkata,
فحقيق بتحية هذه شأنها أن تصان عن بذلها لغير أهل الإسلام، وألا يُحيَّا بها أعداء القدوس السلام.
Maka kalimat tahiyyah yang seperti ini keistimewaannya  (“Assalaamu’alaikum, pent.), sangatlah layak untuk dijaga dari diucapkan kepada non muslim dan (layak pula) musuh-musuh Al-Qudduus As-Salaam (musuh Allah, pent.) tidak dimuliakan dengan ucapan tahiyyah (yang istimewa) tersebut ”.
Namun, sikap yang lebih utama adalah meninggalkan memulai mengucapkan ucapan selamat (tahiyyah) kepada mereka, bagaimanapun juga bentuk ucapan tahiyyah tersebut, kecuali
  1. Jika di dalam memulai mengucapkan ucapan selamat (selain ucapan “Assalaamu’alaikum”, pent.) kepada mereka tersebut, terdapat maslahat syar’i, seperti untuk melunakkan hati mereka agar menerima Islam,
  2. Atau menjaga (diri) dari kejahatan mereka, dan maslahat-maslahat Syar’i yang semisalnya.
Karena sikap yang lebih utama tersebut, lebih kuat untuk memutuskan sebab-sebab yang menghantarkan kepada kasih sayang dan kecintaan (kita) kepada mereka.
***
Penulis: Ust. Sa’id Abu Ukasyah
Artikel Muslim.or.id
Axact

KAOS DAKWAH

KAOS DAKWAH adalah blog membahas tentang cara pembuatan Kaos Dakwah sampai bagaimana cara menjual Kaos Dakwah Online maupun offline, Silakan cari artikel di blog ini..Terima Kasih telah berkunjung di blog sederhana ini.

Post A Comment:

0 comments: