KAOS DAKWAH : Diantara bahasan dalam ilmu Al Qur’an adalah pembahasan mengenai Makiyyah dan Madaniyyah. Yaitu diantara surat-surat dalam Al Qur’an ada yang disebut sebagai surat Makiyyah dan ada yang disebut sebagai surat Madaniyah. Misalnya surat Al An’am dan Al A’raf adalah surat Makiyyah. Sedangkan Al Baqarah dan Al Imran adalah surat Madaniyyah.

Apa definisi dan apa saja perbedaannya? Insya Allah akan kita sebutkan secara ringkas dalam artikel ini. Dan yang akan kami sebutkan dalam artikel ini hanya muqaddimah atau pengenalan saja dari cabang ilmu Makki wal Madini yang merupakan cabang dari uluumul Qur’an (ilmu-ilmu Al Qur’an).
Dengan mengenal dan mempelajari ilmu ini juga, kita akan mengetahui betapa besar perhatian dan usaha para ulama dalam mempelajari serta menelaah Al Qur’anul Karim. Karena para ulama memberikan perhatian yang sangat besar dalam menganalisa mana yang surat atau ayat Makiyyah dan mana yang Madaniyyah. Mereka menganalisa ayat per ayat, surat per surat, lalu mengurutkan dan mengelompokkannya berdasarkan waktu, tempat dan mukhathab ayat atau surat tersebut diturunkan. Bukan hanya faktor waktu, tempat dan mukhathab (sasaran pembicaran) ketika ayat diturunkan yang menjadi patokan pengelompokan, namun terkadang mereka menggabungkan tiga faktor ini dalam pengurutan dan pengelompokkan ayat dan surat. Semuanya dilakukan dengan sangat teliti dan mendetail. Tentunya ini merupakan usaha yang berat dan besar yang telah dilakukan oleh para ulama kita, rahimahumullah jami’an.

Definisi Makiyyah dan Madaniyyah

Ulama berbeda pendapat dalam mendefinisikan Makiyyah dan Madaniyyah menjadi tiga pendapat. Yang khilaf ini merupakan khilaf isthilahiy karena masing-masing pendapat menggunakan pendekatan yang berbeda.
Pendapat pertama, menggunakan pendekatan waktu. Makiyyah adalah surat atau ayat yang diturunkan sebelum hijrah walaupun bukan di Mekkah. Sedangkan Madaniyyah adalah surat atau ayat yang diturunkan setelah hijrah walaupun bukan di Madinah. Demikian juga ayat atau surat yang turun di Mekkah namun setelah hijrah, maka termasuk Madaniyyah. Contohnya ayat:
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا
Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya” (QS. An Nisa: 58)
Ini ayat Madaniyyah karena ayat ini turun di Mekkah di sisi Ka’bah di tahun terjadinya Fathul Mekkah. Juga ayat:
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا
Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agamamu” (QS. Al Maidah: 3).
Ini adalah ayat Madaniyah walaupun turun di Mekkah, namun ia turun pada waktu haji Wada’.
Pendapat ini adalah pendapat yang paling banyak dikuatkan karena batasannya jelas dan pembagiannya konsisten serta mencakup semua ayat dan surat, tidak sebagaimana dua pendapat lainnya
Pendapat kedua, menggunakan pendekatan tempat. Makiyyah adalah surat atau ayat yang diturunkan di Mekkah, sedangkan Madaniyyah adalah surat atau ayat yang diturunkan di Madinah. Namun pembagian ini bermasalah ketika menemui fakta bahwa ada surat atau ayat yang diturunkan selain di Mekkah dan Madinah. Seperti surat atau ayat yang diturunkan di Tabuk, di Baitul Maqdis, dan lainnya, tidak masuk dalam pembagian. Demikian juga surat atau ayat yang di turunkan di Mekkah namun setelah peristiwa hijrah, konsekuensinya ia dikategorikan sebagai Makiyyah, padahal tidak sesuai dengan ciri dan sifat Makiyyah. Sehingga ada inkonsistensi di sini.
Pendapat ketiga, menggunakan pendekatan mukhathab (sasaran pembicaraan ayat). Makiyyah adalah surat atau ayat yang ditujukan bagi penduduk Mekkah, sedangkan Madaniyyah adalah surat atau ayat yang ditujukan bagi penduduk Madinah. Ulama yang berpegang pada pendapat ini, sebenarnya berpatokan pada kaidah: jika surat atau ayat diawali “yaa ayyuhannaas” (wahai manusia…) maka ia Makiyyah, jika diawali “yaa ayyuhalladzina aamanu” (wahai orang-orang yang beriman…) maka ia Madaniyyah.

Bagaimana para ulama mengetahui Makiyyah dan Madaniyyah?

Bagaimana ulama bisa sampai pada kesimpulan bahwa ayat atau surat ini Makiyyah atau yang itu Madaniyyah? Mereka bertopang pada dua metode pokok:
1. Metode sima’i naqli
Yaitu dalam menentukan Makiyyah dan Madaniyyah mereka melihat kepada riwayat-riwayat dari Nabi shallallahu’alaihi wasallam yang shahih yang menjelaskan turunnya suatu ayat. Dan juga riwayat dari para sahabat Nabi yang mereka melihat, menyaksikan dan mengetahui secara jelas kapan, dimana, mengapa dan bagaimana ayat-ayat Al Qur’an turun. Demikian juga riwayat-riwayat dari para tabi’in yang mereka bertemu dan berguru kepada para sahabat dan mendapatkan informasi mengenai Al Qur’an dari para sahabat. Metode inilah yang menjadi metode utama dan sumber pengambilan utama untuk mengetahui Makkiyyah dan Madaniyyah.
2. Metode qiyasi ijtihadi
Yaitu pada ayat dan surat yang tidak terdapat riwayat secara tegas yang menjelaskan mengenai waktu, tempat dan kondisi turunnya. Para ulama berpegang pada karakteristik ayat-ayat Makiyyah dan Madaniyyah yang terdapat riwayatnya kemudian meng-qiyaskannya dengan ayat dan surat selainnya. Jika suatu ayat mengandung karakteristik Makiyyah maka disebut sebagai ayat Makiyyah, demikian juga Madaniyyah. Oleh karena itu metode ini bersifat ijtihadiy, artinya bisa jadi antara ulama yang satu dengan yang lain berbeda ijtihadnya dalam menentukan Makiyyah dan Madaniyyah dengan metode ini.

Kaidah dan Karakteristik Makiyyah dan Madaniyyah

Para ulama setelah menelaah ayat-ayat Al Qur’an, mereka menyusun kaidah dan juga menemukan karakteristik yang khas untuk masing-masing surat dan ayat Makiyyah dan Madaniyyah.
Diantara kaidah yang disusun oleh para ulama untuk memudahkan kita mengenal surat dan ayat Makiyyah dan Madaniyyah adalah sebagai berikut:
Kaidah-kaidah Makiyyah:
  1. Setiap surat yang terdapat ayat sajdah maka ia Makiyyah
  2. Setiap surat yang terdapat kata كلا (kalla) maka ia Makiyyah yang hanya terdapat di setelah pertengahan dari Al Qur’an. Terdapat 33 kata كلا (kalla) dalam Al Qur’an yang terdapat dalam 15 surat.
  3. Setiap surat yang terdapat “yaa ayyuhannaas” namun tidak terdapat “yaa ayyuhalladzina aamanu” maka ia Makiyyah. Kecuali surat Al Hajj yang terdapat ayat:
    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ارْكَعُوا وَاسْجُدُوا
    Hai orang-orang yang beriman, ruku’lah kamu, sujudlah kamu
    namun para ulama tetap menganggap surat Al Hajj sebagai surat Makiyyah.
  4. Setiap surat yang terdapat kisah para Nabi dan umat terdahulu maka ia surat Makiyyah kecuali Al Baqarah.
  5. Setiap surat yang terdapat kisah Nabi Adam dan iblis maka ia Makiyyah kecuali Al Baqarah.
  6. Setiap surat yang dibuka dengan huruf tahajji seperti “alif laam miim”, “alif laam raa”, “haa miim” dan semisalnya, adalah surat Makiyyah. Kecuali surat yang dijuluki zahrawain, yaitu Al Baqarah dan Al Imran. Adapun surat Ar Ra’du diperselisihkan apakah ia Madaniyyah atau Makiyyah.

Kaidah-kaidah Madaniyyah:

  1. Setiap surat yang terdapat penjelasan tentang ibadah-ibadah wajib dan hukuman hadd, ia Madaniyyah
  2. Setiap surat yang terdapat penyebutan kaum munafik maka ia Madaniyyah kecuali Al Ankabut.
  3. Setiap surat yang terdapat bantahan terhadap Ahlul Kitab maka ia Madaniyah.
Para ulama juga setelah menelaah ayat dan surat dalam Al Qur’an menemukan bahwa masing-masing Makiyyah dan Madaniyyah memiliki ciri-ciri khusus dari sisi konten (isi) ayat atau surat, yang membedakan keduanya.
Karakteristik isi surat Makiyyah
  1. Dakwah kepada tauhid dan beribadah kepada Allah semata, menetapkan risalah kerasulan, menetapkan hari kebangkitan dan ganjaran amalan, penyebutan kabar tentang hari kiamat, neraka, surga, dan bantahan terhadap kaum Musyrikin dengan logika Al Qur’an, serta ayat-ayat kauniyah.
  2. Penetapan landasan-landasan umum syariat serta akhlak-akhlak mulia serta penyebutan akhlak-akhlak tercela serta kebiasaan-kebiasaan buruk kaum Musyirikin.
  3. Kisah tentang para Nabi dan kaum terdahulu serta ganjaran bagi kaum tersebut.
  4. Terdapat fawashil (susunan kalimat yang menyerupai sajak) yang pendek-pendek namun dengan ungkapan yang kokoh namun istimewa yang mengena di hati dan menguatkan serta memotivasi pendengarnya.

Anda sedang mencari KAOS DAKWAH yang berkualitas KAOS DISTRO silakan kunjungi website kami GRIRAH, semoga akan mendapatkan jenis dan kualitas KAOS DAKWAH yang terbaik, terima kasih atas kunjungannya

Karakteristik isi surat Madaniyyah
  1. Penjelasan tentang ibadah, muamalah, hukuman hadd, aturan rumah tanga, aturan waris, keutamaan jihad, perbaikan masyarakat, perkara kenegaraan dalam keadaan tenang dan perang, serta kaidah-kaidah hukum.
  2. Bantahan dan sanggahan untuk Ahlul Kitab, yaitu Yahudi dan Nasrani. Ajakan bagi mereka untuk masuk Islam, penjelasan bahwa mereka telah menyelewengkan kitab-kitab Allah, penyimpangan mereka dari kebenaran, dan penyelisihan mereka terhadap kebenaran setelah adanya bukti dan penjelasan yang jelas.
  3. Membahas tabiat kaum munafik dan menjelaskan bahayanya mereka bagi agama
  4. Penyebutan ungkapan-ungkapan pendek secara sering dan berulang dalam rangka menegaskan dan menetapkan syariat dan menjelaskan tujuan-tujuannya.
Pada artikel selanjutnya akan disebutkan surat mana saja yang Makiyyah dan mana saja yang Madaniyyah, insya Allah

Surat-Surat Makiyyah dan Madaniyah

Pembagian surat Makiyyah dan Madaniyah yang paling bagus dan lebih rajih, insya Allah, adalah sebagai berikut:
1. Surat-surat Madaniyyah ada 20 surat:
  1. Al Baqarah
  2. Al Imran
  3. An Nisa’
  4. Al Ma’idah
  5. Al Anfal
  6. At Taubah
  7. An Nuur
  8. Al Ahzab
  9. Muhammad
  10. Al Fath
  11. Al Hujurat
  12. Al Hadid
  13. Al Mujadalah
  14. Al Hasyr
  15. Al Mumtahanah
  16. Al Jumu’ah
  17. Al Munafiqun
  18. Ath Thalaq
  19. At Tahrim
  20. An Nashr
2. Surat-surat yang diperselisihkan apakah ia Makiyyah atau Madaniyyah ada 12 surat:
  1. Al Fatihah
  2. Ar Ra’du
  3. Ar Rahman
  4. Ash Shaf
  5. At Taghabun
  6. At Tathfif (Al Muthaffifin)
  7. Al Qadr
  8. Al Bayyinah
  9. Az Zalzalah
  10. Al Ikhlash
  11. Al Falaq
  12. An Naas
3. Sedangkan sisanya adalah surat-surat Makiyyah, jumlahnya 82 surat.
Total jumlah surat di dalam Al Qur’an ada 114 surat.

Poin-poin bahasan dalam ilmu Makki wal Madini

Dalam pembahasan ilmu Makki wal Madini atau ilmu tentang Makiyyah dan Madaniyyah ada cabang-cabang bahasan yang dibahas oleh para ulama ahli Al Qur’an. Akan kami sebutkan cabang-cabang bahasan tersebut berserta contohnya, semoga kita terpacu untuk lebih mendalam ilmu tentang Al Qur’an Al Karim.
Ada 14 bahasan yang dibahas dalam ilmu Makki wal Madini :
  1. Bahasan mengenai surat apa saja yang diturunkan di Mekkah
  2. Bahasan mengenai surat apa saja yang diturunkan di Madinah
  3. Bahasan mengenai surat apa saja yang diperselisihkan Makiyyah atau Madaniyyah-nya.
    Contoh dari tiga bahasan ini sebagaimana disebutkan di atas
  4. Bahasan mengenai ayat-ayat Makiyyah yang ada di surat Madaniyyah
    Suatu surat disifati sebagai surat Makiyyah atau Madaniyyah bukan berarti semua ayat di dalamnya juga demikian. Karena terkadang ada ayat Makiyyah yang ada dalam surat Madaniyyah dan sebaliknya.
    Contohnya ayat berikut ini:
    وَإِذْ يَمْكُرُ بِكَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِيُثْبِتُوكَ أَوْ يَقْتُلُوكَ أَوْ يُخْرِجُوكَ وَيَمْكُرُونَ وَيَمْكُرُ اللَّهُ وَاللَّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ
    Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik Pembalas tipu daya” (QS. Al Anfal: 30).
    Muqatil rahimahullah mengatakan: “ayat ini diturunkan di Mekkah”. Dan ini juga didukung oleh isi ayat yang memiliki karakteristik surat Makiyyah yaitu menceritakan perjuangan Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam di Mekkah sebelum hijrah. Namun ia berada dalam surat Al Anfal yang merupakan surat Madaniyyah.
  5. Bahasan mengenai ayat-ayat Madaniyyah yang ada di surat Makiyyah
    Contohnya adalah dalam surat Al An’am. Surat Al An’am seluruhnya Makiyyah kecuali tiga ayat, yaitu ayat 151 sampai 153. Demikian juga surat Al Hajj, seluruhnya Makiyyah kecuali tiga ayat, yaitu ayat 19 sampai 21.
  6. Bahasan mengenai ayat yang turun di Mekkah namun dihukumi sebagai Madaniyyah.
    Contohnya ayat:
    يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
    Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal” (QS. Al Hujurat: 13).
    Ayat ini turun di Mekkah di hari Fathul Mekkah, yang artinya ia turun setelah hijrah. Oleh karena itu ia dihukumi sebagai Madaniyyah, sebagaimana telah dijelaskan pada artikel sebelumnya.
  7. Bahasan mengenai ayat yang turun di Madinah namun dihukumi sebagai Makiyyah.
    Para ulama ahli ilmu Qur’an memberikan contoh surat Al Mumtahanah. Karena ia diturunkan di Madinah, namun khithab (sasaran pembicaraan) dari surat ini adalah untuk penduduk Mekkah ketika itu. Sehingga menurut pendapat yang ketiga, yang menggunakan pendekatan khithab, surat Al Mumtahanah termasuk Makiyyah. Namun yang lebih rajih surat Al Mumtahanah termasuk Madaniyyah karena turun setelah hijrah.
  8. Bahasan mengenai ayat Madaniyyah yang mirip seperti Makiyyah
    Yaitu ayat-ayat yang digolongkan sebagai Madaniyyah namun uslub (gaya bahasa) dan karakteristik dari ayat tersebut mirip seperti ayat Makiyyah. Contohnya ayat:
    وَإِذْ قَالُوا اللَّهُمَّ إِنْ كَانَ هَذَا هُوَ الْحَقَّ مِنْ عِنْدِكَ فَأَمْطِرْ عَلَيْنَا حِجَارَةً مِنَ السَّمَاءِ أَوِ ائْتِنَا بِعَذَابٍ أَلِيمٍ
    Dan (ingatlah), ketika mereka (orang-orang musyrik) berkata: “Ya Allah, jika betul (Al Quran) ini, dialah yang benar dari sisi Engkau, maka hujanilah kami dengan batu dari langit, atau datangkanlah kepada kami azab yang pedih”” (QS. Al Anfal: 32).
    Ayat ini turun setelah hijrah sehingga ia Madaniyyah, namun gaya bahasa ayat ini seperti ayat Makiyyah karena isinya berupa kesombongan kaum Musyrikin yang menantang untuk didatangkan adzab yang mencerminkan penentangan mereka terhadap dakwah tauhid dan risalah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam.
  9. Bahasan mengenai ayat Makiyyah yang mirip seperti Madaniyyah
    Yaitu ayat-ayat yang digolongkan sebagai Makiyyah namun uslub (gaya bahasa) dan karakteristik dari ayat tersebut mirip seperti ayat Madaniyyah. Contohnya ayat:
    الَّذِينَ يَجْتَنِبُونَ كَبَائِرَ الْإِثْمِ وَالْفَوَاحِشَ إِلَّا اللَّمَمَ
    (Yaitu) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji yang selain dari kesalahan-kesalahan kecil” (QS. An Najm: 32).
    Ayat ini Makiyyah namun perhatikan penjelasan As Suyuthi: “Al fawahisy adalah setiap dosa yang terdapat hukuman hadd-nya. Sedangkan al kaba’ir adalah setiap dosa yang diancam neraka. Adapun al lamam adalah dosa yang bukan al fawahisy dan bukan al kabair. Sedangkan di Mekkah ketika itu belum ada hukuman hadd atau semacamnya” (Al Itqan, 18).
  10. Bahasan mengenai ayat atau surat yang dibawa penduduk Mekkah ke Madinah
    Yaitu ayat-ayat yang diajarkan oleh kaum Muhajirin kepada kaum Anshar. Ayat tersebut tidak turun di Madinah, namun penduduk Madinah mengetahuinya dari penduduk Mekkah yang hijrah. Diantara contohnya adalah ayat:
    سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى
    Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Maha Tinggi” (QS. Al A’la: 1).
    Dalam riwayat Al Bukhari dari Al Barra’ bin ‘Adzib bahwa ayat ini digaung-gaungkan oleh penduduk Madinah karena mereka sangat gembira ketika Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam datang ke Madinah. Dan ayat tersebut diajarkan oleh para sahabat yang hijrah bersama Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam namun sudah datang terlebih dahulu di Madinah.
  11. Bahasan mengenai ayat atau surat yang dibawa penduduk Madinah ke Mekkah
    Yaitu ayat-ayat atau surat yang diajarkan penduduk Madinah kepada penduduk Mekkah. Diantara contohnya adalah surat At Taubah. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam memerintahkan Abu Bakar Ash Shiddiq untuk berhaji di tahun ke-9. Lalu turunlah surat At Taubah. Maka Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam mengutus Ali bin Abi Thalib dari Madinah ke Mekkah untuk menyampaikan surat At Taubah ini kepada Abu Bakar dan juga kepada kaum Musyrikin Mekkah, dan menyampaikan kepada kaum Musyirikin agar tidak berhaji lagi setelah tahun ini.
  12. Bahasan mengenai ayat atau surat yang turun di siang hari dan di malam hari
    Umumnya ayat Al Qur’an diturunkan siang hari. Sedangkan yang diturunkan pada malam hari lebih sedikit. Diantaranya adalah ayat-ayat terakhir surat Al Imran.
  13. Bahasan mengenai ayat atau surat yang turun di musim panas (shaifiy) dan di musim dingin (syita’iy)
    Diantara yang diturunkan pada musim panas adalah ayat kalalah (orang yang meninggal tidak meninggalkan anak dan orang tua) yang ada di akhir-akhir surat An Nisa. Berdasarkan riwayat yang dikeluarkan dalam Shahih Muslim (567), Umar bin Khathab radhiallahu’anhu berkata:
    ما رَاجَعْتُ رسولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم في شيءٍ ما راجَعْتُه في الكَلَالَةِ ، وما أَغْلَظَ لي في شيءٍ ما أَغْلَظَ لي فيه ، حتى طَعَنَ بإصبعِه في صدري ، فقال: يا عمرُ، ألا تَكْفيك آيةُ الصَّيْفِ التي في آخرِ سورةِ النساءِ ؟
    Aku tidak pernah mendebat Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam sebagaimana aku mendebat beliau tentang masalah kalalah. Dan tidak pernah aku ngotot dalam suatu masalah sebagaimana aku ngotot dalam masalah kalalah hingga dia menusukku dengan jarinya ke dadaku. Beliau bersabda, ‘Wahai Umar tidak cukupkah ayat shaif (yang diturunkan di musim panas) yang berada pada akhir ayat dari surat an-Nisa?’
    Diantara yang diturunkan pada musim dingin adalah surat An Nur ayat 11-26, yang turun karena kisah haditsul ifki, yaitu ketika Ummul Mu’minin Aisyah radhiallahu’anha dituduh oleh orang-orang munafik telah berzina. Asbabul nuzul ayat ini disebutkan dalam hadits Bukhari (4141) dan disebut di dalamnya:
    وهو في يومٍ شاتٍ
    dan itu terjadi di musim dingin
  14. Bahasan mengenai surat atau ayat yang turun ketika safar dan ketika hadhar (tidak safar)
    Umumnya ayat Al Qur’an turun ketika hadhar (tidak safar). Ayat yang turun ketika safar biasanya terjadi ketika dalam safar untuk jihad fi sabilillah. Diantaranya awal-awal surat Al Anfal yang turun ketika perang Badar.

Faidah mempelajari ilmu Al Makki wal Madini

  1. Membantu dalam menafsirkan Al Qur’an dengan penafsiran yang benar. Karena pengetahuan tentang tempat-tempat turunnya ayat akan membantu memahami ayat dengan pemahaman yang tepat.
  2. Membantu untuk mengetahui nasikh dan mansukh
  3. Membuat kita meresapi uslub (gaya bahasa) Al Qur’an dan mengambil faedah darinya sehingga bisa diterapkan dalam metode dakwah ilallah. Misalnya dengan ilmu Al Makki wal Madini kita mengetahui bagaimana dakwah Nabi di awal-awal periode, ketika di Mekkah sebelum hijrah, beliau menekankan kepada dakwah tauhid dengan mengokohkan iman para sahabat. Sedangkan di Madinah, ketika iman para sahabat sudah kokoh, barulah turun ayat-ayat hukum. Hal ini mengajarkan tentang metode dakwah secara bertahap, memulai dari perkara akidah, dan menyesuaikan diri dengan audiens dakwah. Sebagaimana perkataan hikmah: likulli maqam maqaal (di setiap tempat masing-masing ada cara berbicara yang berbeda).
  4. Secara tidak langsung kita mempelajari sirah Nabawiyah dari ayat-ayat Al Qur’an.
Demikian sedikit pengenalan mengenai salah satu cabang dari ulumul Qur’an, yaitu ilmu Al Makki wal Madini. Semoga kita diberi hidayah untuk terus mempelajari Al Qur’an yang merupakan petunjuk dan pedoman hidup kita. Wabillahi at taufiq was sadaad.
***
Rujukan: Mabahits fii Ulumil Qur’an, Syaikh Manna’ Al Qathan, hal. 51 – 64, cetakan Mansyurat Al ‘Ashr Al Hadits
Penyusun: Yulian Purnama
Artikel Muslim.or.id
Axact

KAOS DAKWAH

KAOS DAKWAH adalah blog membahas tentang cara pembuatan Kaos Dakwah sampai bagaimana cara menjual Kaos Dakwah Online maupun offline, Silakan cari artikel di blog ini..Terima Kasih telah berkunjung di blog sederhana ini.

Post A Comment:

0 comments: