KAOS DAKWAH : Sangat penting untuk diketahui bahwa tauhid merupakan perintah Allah Ta’ala yang terbesar. Seluruh perintah Allah Ta’ala yang lainnya mengikuti perintah untuk bertauhid ini dan tidak akan bermanfaat kecuali dengan bertauhid terlebih dahulu

Banyak kita jumpai perintah Allah Ta’ala dalam Al-Qur’an, atau perintah Allah Ta’ala yang disampaikan melalui lisan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ada perintah untuk berbuat baik kepada ke dua orang tua, perintah shalat dan berbagai macam amal ibadah lainnya, perintah untuk berdakwah, dan perintah-perintah lainnya. Dari berbagai macam perintah tersebut, manakah perintah yang paling besar dan paling penting untuk direalisasikan dalam kehidupan seorang hamba? Simaklah penjelasannya dalam pembahasan berikut ini.

Perintah Allah Ta’ala yang Terbesar

Sangat penting untuk diketahui bahwa tauhid merupakan perintah Allah Ta’ala yang terbesar. Seluruh perintah Allah Ta’ala yang lainnya mengikuti perintah untuk bertauhid ini dan tidak akan bermanfaat kecuali dengan bertauhid terlebih dahulu. Di antara bukti yang menunjukkan bahwa tauhid merupakan perintah Allah Ta’ala yang terbesar adalah ayat-ayat berikut ini.
Allah Ta’ala berfirman,
وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئاً وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَاناً وَبِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ
Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang tua (ibu dan bapak), karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahayamu.” (QS. An-Nisa [4]: 36).
Di dalam ayat ini terdapat sepuluh hak yang wajib kita tunaikan. Oleh karena itu, ayat ini disebut dengan “huquuqul ‘asyroh” (hak-hak yang berjumlah sepuluh), yaitu hak Allah Ta’ala, hak kedua orang tua, dan seterusnya sampai dengan hak hamba sahaya (budak). Dalam ayat ini, Allah Ta’ala memulai dengan menyebutkan hak-Nya, yaitu (yang artinya),”Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun.” Ini adalah bukti bahwa tauhid merupakan perintah Allah Ta’ala yang pertama kali diserukan kepada seseorang dan merupakan kewajiban terbesar seorang hamba dalam sepanjang hidupnya, sebelum menunaikan kewajiban yang lainnya.
Allah Ta’ala berfirman,
وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا (23)
Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (QS. Al-Isra’ [17]: 23).
Dalam ayat ini, Allah Ta’ala juga memulai dengan perintah bertauhid. Dan sekali lagi, hal ini menunjukkan bahwa tauhid adalah perintah Allah Ta’ala yang terbesar.

Anda sedang mencari KAOS DAKWAH yang berkualitas KAOS DISTRO silakan kunjungi website kami GRIRAH, semoga akan mendapatkan jenis dan kualitas KAOS DAKWAH yang terbaik, terima kasih atas kunjungannya

Allah Ta’ala berfirman,
قُلْ تَعَالَوْا أَتْلُ مَا حَرَّمَ رَبُّكُمْ عَلَيْكُمْ أَلَّا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ مِنْ إِمْلَاقٍ نَحْنُ نَرْزُقُكُمْ وَإِيَّاهُمْ وَلَا تَقْرَبُوا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَلَا تَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ (151)
Katakanlah,’Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu, yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu dan bapak, dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan, Kami akan memberi rizki kepadamu dan kepada mereka, dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang tampak di antaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar’. Demikian itu yang diperintahkan kepadamu supaya kamu memahami(nya).” (QS. Al-An’am [6]: 151).
Dalam ayat ini terdapat lima wasiat bagi seorang hamba. Yaitu mentauhidkan Allah, berbuat baik kepada kedua orang tua, tidak membunuh anak-anak kita, tidak boleh mendekati perbuatan keji, dan tidak membunuh jiwa yang Allah Ta’ala kecuali dengan alasan yang dapat dibenarkan (Lihat Al-Qoulul Mufiid, 1/20, karya Syaikh Ibnu ‘Utsaimin). Dalam ayat ini, Allah Ta’ala memulai wasiat-Nya dengan perintah untuk bertauhid.
Allah Ta’ala berfirman,
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku”. (QS. Adz-Dzariyat [51]: 56)
Para ulama ahli tafsir mengatakan, yang dimaksud dengan “beribadah kepada-Ku” adalah “mentauhidkan Aku”. Dalam ayat ini, Allah Ta’ala menjelaskan bahwa tujuan utama pencipatan makhluk adalah beribadah hanya kepada Allah Ta’ala saja. Oleh karena itu, tauhid adalah perintah Allah Ta’ala yang terbesar. Karena dengan melaksanakannya, mereka dapat mewujudkan tujuan penciptaan dirinya. (Lihat Syarh Tsalaatsatul Ushuul, hal. 17, karya Syaikh Shalih Alu Syaikh).
Kalau kita telah memahami bahwa perintah Allah Ta’ala yang terbesar adalah tauhid, maka otomatis kewajiban kita adalah mempelajari tauhid terlebih dahulu sebelum mempelajari cabang ilmu agama lainnya, karena tauhid adalah asas dalam agama kita ini. Kita juga harus mempelajarinya dan menyampaikannya kepada masyarakat secara terus-menerus. Oleh karena itu, tidak selayaknya apabila pengajaran tauhid ini disepelekan, tidak dinomorsatukan, atau bahkan tidak diajarkan sama sekali. Namun sayangnya, kita dapati saat ini sebagian da’i yang menyepelekan dan menganggap remeh hal ini. 
Setelah kita mengetahui bahwa tauhid adalah perintah Allah Ta’ala yang terbesar bagi seorang hamba, lalu apakah tauhid tersebut? Dan bagaimanakah merealisasikan perintah Allah Ta’ala untuk bertauhid?

Tauhid adalah Mengesakan Allah Ta’ala dalam Ibadah

Setelah kita memahami bahwa tauhid adalah perintah Allah Ta’ala yang terbesar, maka kita harus memahami apakah yang dimaksud dengan tauhid supaya tidak salah paham. Syaikh Muhammad At-Tamimy rahimahullah menjelaskan, bahwa tauhid adalah mengesakan Allah Ta’ala dalam beribadah (dengan kata lain, tauhid adalah beribadah hanya kepada Allah Ta’ala, tidak kepada yang lainnya).
Perlu diketahui bahwa mendefinisikan tauhid dengan pernyataan “mengesakan Allah Ta’ala dalam beribadah” adalah mendefinisikan tauhid dengan menyebutkan bagian tauhid yang paling penting (yaitu tauhid uluhiyyah atau tauhid ibadah). Karena definisi tauhid yang lengkap adalah, “Mengesakan Allah Ta’ala dalam penciptaan dan pengaturan (alam semesta) [tauhid rububiyyah, pen.]; mengikhlaskan ibadah kepada-Nya dan meninggalkan peribadatan kepada selain-Nya [tauhid uluhiyyah, pen.]; dan menetapkan nama-nama yang husna untuk Allah Ta’ala serta menycikan Allah dari berbagai kekurangan dan sifat-sifat yang tercela [tauhid asma’ wa shifat, pen.].” [1]
Namun, seringkali kita jumpai para ulama hanya mendefinisikan tauhid dengan menyebutkan tauhid uluhiyyah saja. Para ulama mendefinisikan tauhid dengan hanya menyebutkan tauhid uluhiyyah adalah karena pertimbangan-pertimbangan berikut ini.
Pertama, tujuan para ulama mendefinisikan tauhid dengan tauhid uluhiyyah adalah dalam rangka menekankan betapa pentingnya tauhid uluhiyyah tersebut. Karena tauhid uluhiyyah adalah inti ajaran dakwah yang dibawa oleh seluruh Rasul, mulai dari Nabi Nuh ‘alaihis salaam hingga nabi kita, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Ta’ala berfirman,
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ
“Dan sesungguhnya kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), ‘Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thaghut itu’”. (QS. An-Nahl [16]: 36)
Bukti lain tentang betapa pentingnya tauhid uluhiyyah adalah bahwa tujuan utama penciptaan jin dan manusia adalah untuk menegakkan tauhid uluhiyyah ini (lihat kembali surat Adz-Dzariyat ayat 56 pada bagian pertama tulisan ini).
Ke dua, sesungguhnya penyelewengan yang sangat banyak terjadi pada manusia sejak zaman dahulu dan akan terus berlanjut hingga sekarang ini adalah kesyirikan dalam masalah uluhiyyah. Kesyirikan yang pertama kali terjadi di muka bumi ini adalah kesyirikan umat Nuh ‘alaihis salaam dalam masalah uluhiyyah. Dan demikianlah kesyirikan tersebut terus berlanjut pada umat-umat yang lain sehingga Allah pun mengutus para Rasul-Nya dengan misi pokok menegakkan tauhid uluhiyyah. Sehingga tauhid inilah yang merupakan titik perseteruan dan permusuhan antara para Rasul dengan umatnya masing-masing dan merupakan titik persimpangan yang memisahkan antara orang-orang beriman dan orang-orang kafir.  Dan tema perseteruan ini akan terus berlanjut hingga sekarang dan mungkin akan terus berlanjut hingga hari kiamat. [2]
Adapun tauhid rububiyyah, maka hal ini telah menjadi fitrah dalam diri setiap manusia. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang meyakini bahwa yang menciptakan langit dan bumi adalah selain Allah Ta’ala. Tidak pula dijumpai seorang pun, meskipun orang musyrik dan kafir, bahwa yang menciptakan manusia adalah manusia itu sendiri. Oleh karena itu, apabila kita mendefinisikan tauhid dengan “pengakuan bahwa Allah-lah satu-satunya yang menciptakan, memberi rizki, menghidupkan, dan mematikan”, maka umat Islam akan menganggap tauhid rububiyyah itulah inti dan hakikat tauhid yang sebenarnya. Sehingga mereka sudah merasa bertauhid dengan pengakuan itu, dan lalai dengan kewajiban mentauhidkan Allah Ta’ala dalam uluhiyyah. Padahal, hakikat tauhid sebenarnya, yang menjadi inti materi dakwah setiap rasul dan tujuan utama kitab-kitab diturunkan adalah tauhid uluhiyyah, bukan tauhid rububiyyah.
Selain itu, umat Islam juga akan mudah terjerumus ke dalam perbuatan syirik apabila memahami tauhid sebatas tauhid uluhiyyah. Karena mereka akan memahami, berarti tidak mengapa beribadah kepada selain Allah Ta’ala, yang penting kita tetap mengakui bahwa Allah-lah satu-satunya yang menciptakan dan memberi rizki. Oleh karena itulah, para ulama kita seringkali mendefinisikan tauhid dengan menyebutkan tauhid uluhiyyah saja untuk menekankan pentingnya hal ini dan untuk menjelaskan bahwa tauhid inilah yang membedakan antara orang beriman dan orang-orang kafir.
Perlu diketahui bahwa yang dimaksud dengan kata “ibadah” dalam definisi tauhid tersebut adalah “ibadah syar’i”, yaitu tunduk dan patuh kepada hukum-hukum Allah Ta’ala yang bersifat syar’i (hukum syari’at-Nya). Adapun “ibadah kauni” adalah tunduk kepada hukum Allah Ta’ala yang bersifat kauni, yaitu ketentuan dan taqdir Allah Ta’ala yang Allah Ta’ala tetapkan kepada hamba-Nya, baik yang beriman maupun yang kafir, yang baik maupun yang jahat, berupa sakit, miskin, atau yang lainnya. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala,
إِنْ كُلُّ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ إِلَّا آَتِي الرَّحْمَنِ عَبْدًا (93)
“Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Tuhan yang Maha Pemurah selaku seorang hamba.” (QS. Maryam [19]: 93)
Oleh karena itu, yang dimaksud dengan kata “ibadah” dalam definisi tauhid tersebut adalah ibadah yang bersifat syar’i, yaitu ibadah yang hanya khusus dilakukan oleh orang-orang yang beriman.
Semoga Allah Ta’ala memberikan kita limpahan hidayah sehingga kita mampu merealisasikan perintah Allah Ta’ala yang terbesar tersebut. [Selesai]
***
Selesai disempurnakan ba’da subuh, Masjid Nasuha Rotterdam NL, 27 Jumadil Akhir 1436
Yang senantiasa membutuhkan rahmat dan ampunan Rabb-nya,
Penulis: M. Saifudin Hakim
Catatan kaki:
[1] ‘Aqidatu Tauhid, hal. 149, karya Syaikh Dr. Shalih Fauzan.
[2] Lihat Manhajul Anbiya’ fi Ad-Da’wati Ilallah, hal. 41-44, karya Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali dan Imam Syafi’i Menggugat Syirik, hal. 52-55, karya Ustadz Abdullah Zaen, Lc.
___
Artikel Muslim.Or.Id
Axact

KAOS DAKWAH

KAOS DAKWAH adalah blog membahas tentang cara pembuatan Kaos Dakwah sampai bagaimana cara menjual Kaos Dakwah Online maupun offline, Silakan cari artikel di blog ini..Terima Kasih telah berkunjung di blog sederhana ini.

Post A Comment:

0 comments: